Kisah Pangeran Sakti Penakluk Hati Putri Raja Bali

Kisah Pangeran Sakti Penakluk Hati Putri Raja Bali

Kisah pangeran sakti mandraguna tidak hanya dongeng belaka. Sosok pangeran itu mewujud pada Raden Mas Cokroningrat alias Pangeran Cakraningrat IV atau Raden Toyo atau yang bernama asli Ahmad Joko Salim. Ia merupakan suami dari putri raja Pemecutan dari Bali.

Kartubi, penjaga makam Cakraningrat menuturkan, sang pangeran datang ke Pulau Bali karena diperintahkan menyiarkan Islam di wilayah itu. Ia berangkat bersama empat murid lainnya. Sesampainya di Pulau Dewata, mereka berpencar. Bali kala itu tengah dilanda perang saudara antar-kerajaan. “Waktu itu memang sedang terjadi peperangan antara Puri Mengwi dan Puri Pemecutan.

Raden Mas Cokroningrat yang terjebak dalam peperangan ditangkap prajurit Kerajaan Pemecutan. Ia ditawan lantaran dianggap mata-mata. Raden Mas Cokroningrat lalu ditugasi mengurus kuda.

Pada suatu hari, Raja Pemecutan hendak menunggangi kudanya. Raden Mas Cokroningrat menyiapkan kuda kesayangan raja untuk ditunggangi. Di hadapan raja, Raden Mas Cokroningrat memerintahkan kepada kuda berlutut karena hendak ditunggangi sang raja.

Kuda itu menurut sampai membuat raja terperangah. Raja meyakini jika Raden Mas Cokroningrat bukan dari kalangan warga biasa. Saat itu, beliau merendah dan mengatakan kepada raja jika beliau dari kalangan warga biasa. Peristiwa itu berlalu seiring semakin sengitnya peperangan antara Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Pemecutan. Sang putri raja yang tak lain adalah Gusti Ayu Made Rai segera menghampiri Raden Mas Cokroningrat.

Seperti ayahnya, ia meyakini jika Raden Mas Cokroningkat memiliki kesaktian mandraguna. Karena itu, ia meminta kepadanya untuk membantu kerajaan yang semakin terdesak. Jika ia berhasil memukul mundur musuh, sang putri raja mau dinikahi sang pangeran. Raden Mas Cokroningrat menyanggupi keinginan Raden Mas Siti Khotijah. Sejak kali pertama berjumpa, ia memang sudah jatuh cinta dengan sang putri. Meski begitu, ia mensyaratkan tak mau ada peperangan dalam pengertian pertumpahan darah.

Raden Mas Cokroningrat meminta kentongan yang ada di kerajaan. Dengan kesaktiannya, dibacakan mantra di kentongan itu. Nanti kalau musuh datang, santrinya akan memukul kentongan itu. Begitu Kerajaan Pemecutan diserang, santri Raden Mas Cokroningrat memukul kentongan tersebut. Prajurit yang hendak menyerang seketika merasakan sakit di telinganya karena bunyi kentongan.