Kisah Seorang Anak Yang Merawat Ayahnya Di Trotoar Jalan

Kisah Seorang Anak Yang Merawat Ayahnya Di Trotoar Jalan

Suatu hari ada kehidupan yang mengharukan dimana ada seorang anak kecil yang bernama Siti Aisyah rela merawat ayahnya setiap hari.

Wajah Siti Aisyah Pulungan terlihat sedikit bahagia. Bocah usia delapan tahun ini pun banyak menaruh harapan. Beban penderitaan yang dirasakan selama hampir dua tahun itu, dirasakan mulai berkurang. Tidak lagi merawat ayah tercintanya, Muhammad Nawawi Pulungan, yang tak berdaya tidur di atas becak barang,

Selama ini, ayah Aisyah itu hanya tergeletak di atas becak. Badannya yang kurus kering tidak mampu untuk bangkit. Aisyah merawat ayahnya itu meski hanya mengandalkan air minum dan mencari makan dari belas kasihan orang. Aisyah tidak pernah mengeluh.

“Dulu aku pernah duduk di bangku kelas satu sekolah dasar di kawasan Halat. Tapi saya berhenti sekolah karena merawat ayah yang sakit. Kami tidak punya tempat tinggal,” ujar Aisyah.

Selama hampir dua tahun itu, Aisyah setia merawat Nawawi. Saban hari, mereka mengharapkan belas kasihan dari dermawan ketika melewati Masjid Raya kawasan Jl Sisingamangaraja Medan, yang tidak jauh dari lokasi Istana Maimun Medan.

“Jika malam tiba, saya bersama ayah tidur di atas becak. Kami tidur di depan pertokoan dan salon. Pagi hari, saya ambil air dari masjid, begitu juga sore harinya. Air itu buat membersihkan badan ayah, biar tidak merasa kegerahan, dan supaya tubuhnya tetap terlihat bersih,” katanya.

Karena Nawawi sakit, Aisyah lah yang selalu mengayuh becak setiap harinya. Tidak sedikit orang yang melihat pemandangan memilukan tersebut. Ada yang menaruh rasa kasihan saat melihat kisah hidup ayah dan anak itu. Warga yang prihatin selalu memberikan bantuan makanan, minuman dan uang.

Namun, tidak sedikit pula di antara masyarakat yang melihat kejadian tersebut menganggapnya pemandangan biasa saja. Bahkan, Aisyah kerap kali harus memanjat tembok untuk mengambil air dari masjid. Itu dia lakukan supaya pejabat yang salat, tidak melihatnya.

“Aku sengaja membawa ayah untuk menghindari pemandangan pejabat. Ini kulakukan agar kami tidak diusir dari tempat biasa mencari nafkah. Setiap hari, saya dan ayah di trotoar kawasan Masjid Raya itu. Malamnya, kami pergi dan tidur di depan pertokoan maupun rumah orang,” ungkapnya.

Tubuh kurus Aisyah pun tidak menghalangi semangatnya membawa ayahtercintanya. Anak malang ini tidak mengenal wajah ibunya yang bernama Sugiarti. Sejak berusia satu tahun, Aisyah ditinggalkan bersama Nawawi. Sugiarti meninggalkan suami dan anaknya itu karena faktor ekonomi.

Selama menjalani kehidupan berat tersebut, Aisyah tidak pernah menyerah. Demi Nawawi dia mengaku tidak pernah mengeluh tidur di atas becak. Becak itu merupakan harta paling berharga. Jika ban bocor, Aisyah mengharapkan bantuan tukang tempel ban untuk menambalnya.

Kebahagiaan Aisyah mulai terpancar dari raut wajahnya ketika Pelaksana tugas Wali Kota Medan, Dzulmi Eldin akhirnya menerima laporan. Eldin langsung melakukan pengecekan, dan melihat langsung kisah memilukan tersebut. Nawawi yang dalam kondisi lemas diboyong ke rumah sakit.

Aisyah pun juga dibawa. Pihak medis pun memberikan pertolongan. Nawawi ternyata sudah lama mengidap penyakit paru-paru. Usai menjalani pemeriksaan di unit gawat darurat, Nawawi langsung dibawa ke dalam Ruang Flamboyan 18. Aisyah masih setia mendampinginya.

“Dulu anak ini pernah sekolah namun terpaksa berhenti. Anak malang ini masih sangat menginginkan untuk sekolah lagi. Mulai besok, dia dapat sekolah di SD Purwo, yang tidak jauh dari rumah sakit ini. Pulang sekolah, dia bisa mendampingi ayahnya. Jadi, mereka terus bersama,” ujar Eldin.

Dalam kesempatan itu, Eldin yang kembali menyambangi Nawawi dan Aisyah di rumah sakit. Eldin memberikan bantuan pakaian seragam sekolah, buku, tas dan alat tulis untuk perlengkapan sekolah anak malang tersebut. Eldin merasa iba dengan melihat kehidupan anak itu.

“Biaya perawatan Nawawi selama di rumah sakit dan biaya pendidikan buat Aisyah akan ditanggung oleh pemerintah. Aisyah memang harus mendapatkan pendidikan yang layak. Bahkan, kita merencanakan mempersiapkan rusunawa buat tempat tinggal mereka,” ungkapnya.

Kisah Aisyah ternyata mengundang banyak perhatian. Tidak sedikit yang memberikan bantuan, bahkan ada yang merencanakan menggalang dana melalui perkumpulan pengusaha dermawan supaya membantu Aisyah. Ada komite donatur yang dipimpin Cahyo Pramono untuk mendesain bantuan buat Aisyah.

Pengamat sosial di Medan, Badaruddin menyampaikan, kisah pilu Aisyah bersama ayahnya, harus menjadi perhatian semua orang. Bahkan, pemerintah diminta tidak hanya berjanji untuk memberikan tempat tinggal. Sebab, perjalanan hidup bapak dan anak itu masih panjang.

“Selain memberikan pendidikan gratis, perawatan gratis selama di rumah sakit, pemerintah juga harus memikirkan upaya menyambung hidup bapak dan anak tersebut. Misalnya, Nawawi setelah sembuh diberikan pekerjaan untuk menafkahi anaknya, atau diberikan modal untuk berjualan,” jelasnya.

Dia mengkhawatirkan, kisah pilu ini akan terjadi lagi jika pemerintah tidak mempertimbangkan hal tersebut. Sebab, kisah Aisyah merupakan bagian dari segelintir kasus anak yang terpaksa menjalani hidup keras di tengah perkotaan. Lembaga untuk penanganan anak pun diharapkan mempunyai peranan.

Menurut Dewi (40), salah seorang warga di seputaran Jl Mahkamah Medan, Aisyah bersama Nawawi sudah sangat lama hidup terlunta-lunta. Masyarakat di sana sering memberikan bantuan buat bapak dan anak tersebut. Bahkan, keduanya tidak dilarang ketika memarkirkan becak di depan rumah.

“Kalau untuk memberikan bantuan nasi dan makanan sudah sering diberikan. Kita semua kasihan melihatnya. Kami juga bersyukur karena pada akhirnya pemerintah mau membantu Nawawi dan Aisyah. Semoga janji pemerintah direalisasikan, sehingga Aisyah dan ayahnya bisa merasakan tidur di rumah barunya,” harapnya.