Mana Suara Piccolonya

Mana Suara Piccolonya

Pada waktu-waktu tertentu dalam hidup mungkin kita merasa bahwa kita tidak berarti dan tidak berguna. Karena dikelilingi banyak orang yang memiliki bakat yang lebih besar dari kita, maka saat kita merasa lemah, kita justru tergoda untuk menarik diri dan membiarkan orang lain mengerjakan suatu pekerjaan. Kita beralasan bahwa apa yang kita berikan tidak akan banyak gunanya.

Kita lupa akan kebenaran yang dinyatakan Tuhan saat Dia menggunakan lima roti dan dua ikan kecil untuk memberi makan begitu banyak orang (Yohanes 6:1-14). Kita semua memiliki sesuatu yang penting yang dapat dipersembahkan Untuk-Nya.

Sir Michael Costa sedang memimpin sebuah latihan orkestra yang memainkan berbagai macam alat musik secara serempak.

Pada pertengahan latihan, bersamaan dengan suara terompet yang nyaring, drum yang berdentum-dentum, dan biola yang mengalunkan melodi yang indah, si pemain piccolo [sejenis suling kecil] menggerutu pada dirinya sendiri,

“Apa gunanya aku? Sebaiknya aku berhenti bermain saja. Toh tidak akan ada orang yang bisa mendengar aku.” Begitulah, ia tetap menaruh piccolonya di sela mulutnya, walaupun ia tidak meniupnya.

Sesaat kemudian, sang konduktor berteriak, “Stop! Stop! Mana suara piccolonya?” Ternyata suara piccolo tidak terdengar oleh orang terpenting dalam orkestra itu.

Hal ini sama halnya dengan menggunkan talenta kita untuk Tuhan. Entah bakat kita itu hebat atau kecil, penampilan tidaklah lengkap sampai kita melakukan yang terbaik dengan apa yang kita miliki.