Tag: Kisah Nyata

Kisah Seorang Anak Yang Berbakti Telah Merawat Orang Tuanya Selama 9 Tahun

Kisah Seorang Anak Yang Berbakti Telah Merawat Orang Tuanya Selama 9 Tahun

Kisah Seorang Anak Yang Berbakti – Jika kita ingat kembali, begitu banyak sekali perjuangan dan pengorbanan yang telah orang tua lakukan untuk anak-anaknya.

Orang tua kita merupakan orang pilihan dan terbaik yang telah Tuhan berikan untuk kita. Karena merekalah kita bisa hidup seperti sekerang ini.

Dari kecil sampai sekarang ini kita selalu disayangi dengan sepenuh hati oleh mereka. Dan ketika keadaan orang tua kita sudah tidak sama lagi seperti dulu, maka kitalah yang harus merawat mereka.

Kisah kali ini datang dari seorang anak berbakti. Selama sembilan tahun anak tangguh ini merawat orang tuanya yang tuna netra. Ia tidak pernah mengeluh akan hal ini, dengan sepenuh hati ia mengabdi dan berbakti kepada mereka.

Feng Molin, itulah nama anak yang kisahnya ini sangat menggetarkan hati kita semua. Bocah yang kini berusia 13 tahun asal Provinsi Shaanxi, Cina ini membuat semua orang terharu. Mengapa tidak, seperti yang dilansir dari laman Facebook CCTVnews, Feng memanglah bukan bocah biasa.

Anak-anak seusianya mungkin pada saat itu menghabiskan waktunya untuk bermain. Namun, lain halnya dengan Feng. Justu ia sudah harus menanggung tanggung jawab yang cukup besar.

Pada suatu hari, tepatnya pada hari jum’at, ketika anak-anak lainnya langsung bergegas pulang dan bermain justru Feng malah pergi ke kantor kepala sekolah. Di sana ia akan mengumpulkan donasi yang dihasilkan dari pemberian orang-orang dermawan yang ingin membantunya.

Setelah itu, Feng akan pergi ke toko untuk membali sebungkus besar mie kering dan juga kubis Cina. Feng membawa belanjaan yang sangat berat, dan ia akan langsung bergegas pulang ke rumahnya, karena di rumahnya tersebut ada dua orang yang ia cintai sedang menunggu.

Bagi Feng sendiri, mungkin hidupnya tidak sesempurna seperti anak-anak lain yang ada di sekitarnya. Sang ibu yang telah melahirkannya mengalami tuna netra sejak dilahirkan. Sedangkan ayahnya mengalami kebutaan sejak tahun 2006 setelah menderita meningitis yang cukup parah.

Baca Kisah Menyeramkan Lainnya Hanya Di https://www.ceritakisah.web.id :

Sejak tahun 2006, Feng dan sekeluarga menggantungkan hidupnya pada bantuan yang diberikan oleh pemerintan. Feng yang pada saat itu masih kecil harus terpaksa merawat kedua orang tuanya tersebut.

Feng merawat dan melakukan pekerjaan rumah seorang diri, mulai dari memasak, bercocok tanam, membersihkan rumah dan lain sebagainya. Dimana semua itu sudah bisa dilakukan oleh Feng sejak dirinya masih kecil.

Diketahui, Feng bersekolah pada saat itu di Kota Yanmen. Dimana kota tersebut jauh dari tempat tinggalnya. Oleh sebab itu, Feng harus tinggal di sana selama hari sekolah dan ia akan pulang ke rumah ketika akhir pekan.

Namun, akhir pekan yang biasanya digunakan oleh anak-anak lainnya berlibur, justru waktu tersebut adalah waktu yang sangat berat untuk Feng. Ia harus melakukan berbagai macam pekerjaan rumah dan merawat kedua orang tuanya. Dan setelah semua pekerjaan dan tugasnya selesai, baru ia akan mengerjakan PR dari sekolahnya.

Sejak kisah Feng tersebar di dunia maya, banyak sekali orang-orang yang bersimpati. Bahkan ada seorang pria yang bermaksud ingin mengadopsi Feng dan mengirim perawat untuk merawat kedua orang tuanya tersebut.

Feng pada saat itu menerima diberikannya donasi, namun ia menolak tawaran untuk diadopsi. Bagi Feng tinggal bersama dengan kedua orang tuanya merupakan kebahagiaan tersendiri.

Ia akan berusaha dan bekerja keras untuk masa depan yang lebih baik dengan kedua tangannya sendiri. Meskipun usianya masih sangat belia, tetapi pemikiran Feng sudah sangat dewasa dan mampu memotivasi anak-anak lain yang ada di sekitarnya.

Setiap anak yang ada di dunia ini tentunya memiliki kewajiban untuk berbakti kepada orang tuanya masing-masing. Nah, semoga niat baik dan kerja keras Feng bisa membuahkan hasil. Semoga kita semua memiliki waktu dan kesempatan untuk berbakti dan selalu memberikan semua yang terbaik untuk orang tua kita.

Kisah Seorang Wanita Tanpa Jari Tangan Tetapi Tetap Bisa Menjadi Disainer Handal

Kisah Seorang Wanita Tanpa Jari Tangan Tetapi Tetap Bisa Menjadi Disainer Handal

Kisah Seorang Wanita Tanpa Jari Tangan – Pernahkah anda membayangkan menjalani hidup dan melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa melibatkan fungsi tangan anda?

Pernahkah anda membayangkan menjadi seorang desainer dengan keterbatasan fungsional seperti bekerja tanpa menggunakan jari-jari tangan?

Untuk seorang desainer seper Michelle Vandy, ini adalah realita yang harus ia terima dan ia jalani sehari-hari, bahkan ia harus belajar untuk terbiasa dengan kondisi seperti demikian.

Ya, bagi seorang desainer atau arsitektur, fungsi kekuatan jari-jari tangan memang memiliki peranan yang cukup penting.Sebab tangan dan jari-jari adalah modal utama anda menciptakan sebuah karya. Melalui gerakan tangan dan guratan jemari sebuah karya luar biasa dimulai dan tercipta.

Sebaliknya, rasanya akan sulit sekali atau mungkin kita berpikiran mustahil untuk merancang dan mendesain suatu karya di komputer tanpa menggunakan tangan.

Namun, bagaimana jika kita dihadapkan pada sebuah kondisi tertentu dimana jari-jemari kita mengalami penurunan fungsi yang membuatnya tidak lagi dapat bekerja dengan optimal dan bahkan kita tidak lagi dapat menggunakan jari jemari tersebut?

Semua hal bermula di musim panas, saat ini Vandy adalah seorang desainer muda di Omada Health, namun sebenarnya ia adalah seorang mahasiswa yang masih mengejar gelar sarjana di bidang arsitektur.

Pada saat itu, Vandy adalah seorang siswa magang sebagai arsitek di musim panas. Gelarnya sebagai seorang mahasiswa magang membuatnya terpaksa harus mengerjakan pekerjaan berjam-jam lamanya dimana tangan dan jari-jemarinya adalah mesin tubuh yang membantunya menyelesaikan pekerjaannya.

Baca Kisah Menyeramkan Lainnya :

Hanya saja terlalu banyaknya pekerjaan dan terlalu lamanya jam bekerja membuat tubuh Vandy tak kuat menahan bebannya. Terlebih lagi dengan pekerjaan membuat ilustrasi untuk proyek buku temannya.

Jika dikalkulasikan perhari, jam kerja Vandy bisa mencapai 10-15 jam. Jam kerja dan jumlahnya yang terlalu banyak ini membuat Vindy. Seringkali kelelahan dan lama-kelamaan, lenganya sering terasa kram dan berkedut.

Sehingga pada akhirnya membuat jari-jari tangannya kehilangan seluruh kekuatannya dan membuatnya kehilangan fungsinya lagi. Kondisi seperti ini tentunya membuat kerugian pada tubuh Vandy yang mana tentu saja hal ini akan menghambat pekerjaannya.

Apalagi dengan impiannya, mimpinya sebagai seorang arsitektur handal tentu akan terhambat. Jari-jemari yang biasa ia andalkan untuk bekerja dan mengukir karya yang luarbiasa telah berhenti bekerja.

Tubuh Vandy sudah tak lagi kuat menopang beban akibat aktivitas vandy yang terlalu menguras tenaga. Bahkan Vandy terpaksa harus menggunakan mouse komputer dengan menggunakan tangan kirinya.

Rupanya, gadis dengan mimpi yang menakjubkan ini. Didiagnosa mengalami kondisi yang disebut dengan repetitive strain injury (STI). Yakni suatu cedera yang menyerang bagian persendian yang diakibatkan karena ketegangan otot atau saraf. Akibat suatu aktivitas fisik tertentu yang dilakukan secara terus-menerus dalam kurun waktu yang lama.

Pada kondisi ini, jika seseorang memaksakan bekerja menggunakan jari-jari tangannya. Maka sakit yang luar biasa akan dirasakan. Hal yang sama juga dialami oleh Vandy.

Di awal ia tidak bisa menerima apa yang terjadi padanya. bahkan ia tidak percaya jika dokter mendiagnosanya demikian. Untuk itulah ia terus memaksakan jari-jemari agar tetap bekerja.

Namun ternyata bukan bekerja, malah sakit luar biasa yang dirasakannya. Ketika sakit ini menyerang tak jarang Vandy merasakan kesakitan. Sampai menjerit dan meronta tidak tahan dengan sakitnya.

Seorang Wanita Tanpa Jari Tangan

Namun meski demikian, hal ini tak lantas membuat Vandy menyerah dan berputus asa. Dengan bantuan ayahnya, Vandy mengembangkan sebuah alat yang dapat membantunya untuk menciptakan sebuah desain. Yakni sebuah perangkat dengan Manfrotto 492 table tripod, Apple Magic Trackpad, dan sebuah adaptor tripod plate.

Hal ini memungkinkan dia untuk merancang menggunakan bibir dan hidungnya. Dia telah menggunakan metode ini selama beberapa tahun dan memiliki tingkat akurasi yang sama seperti yang ia lakukan dengan tangannya.

Dan kini Vandy sudah tidak perlu mnegadalkan jari jemarinya lagi untuk melahirkan sebuah karya yang luar biasa. Sebab melalui hidung dan bibirnya ia bisa menciptakan sebuah sesuatu yang lebih menakjubkan.

Nah, sahabat dimanapun berada, ketika masalah datang menghampiri kita, kita mungkin sering mengeluh dan beranggapan bahwa kita adalah orang yang paling tidak beruntung didunia ini sehingga membuat kita gampang sekali menyerah.

Namun setelah menyaksikan kisah kali ini, apakah sahabat masih mau mengeluh dan menyerah? Percayalah sahabat, kekurangan tak lantas membuat kita menjadi manusia yang tidak berharga.

Jika kita tekun dan bekerja keras serta mau belajar dan berusaha, selalu ada jalan dan kekurangan tersebut bisa kita asah menjadi sebuah kelebihan yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan.

Nah, sahabat dimanapun berada, ketika masalah datang menghampiri kita, kita mungkin sering mengeluh dan beranggapan bahwa kita adalah orang yang paling tidak beruntung didunia ini sehingga membuat kita gampang sekali menyerah.

Namun setelah menyaksikan kisah kali ini, apakah sahabat masih mau mengeluh dan menyerah? Percayalah sahabat, kekurangan tak lantas membuat kita menjadi manusia yang tidak berharga.

Jika kita tekun dan bekerja keras serta mau belajar dan berusaha, selalu ada jalan dan kekurangan tersebut bisa kita asah menjadi sebuah kelebihan yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan.

Pengorbanan Dan Perjuangan Seorang Anak Yang Mertawat Sang Ayah

Kisah Pengorbanan Dan Perjuangan Seorang Anak

Kisah Pengorbanan Dan Perjuangan Seorang Anak – Musibah atau penyakit akan datang dan menimpa siapa saja tanpa pernah kita prediksi sebelumnya. Nah, ketika orang yang kita sayangi terutama kedua orangtua kita menderita atau sakit, tentunya kita sebagai seorang anak akan merasa tergugah dan merasa tidak tega.

Kita akan berusaha sekeras mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi mereka. Dengan segala cara tentunya kita akan berada di dekatnya, memenuhi apa yang mereka inginkan seperti mereka selalu memenuhi keinginan kita selama ini.

Ou Yanglin, bocah berusia 7 tahun ini kini tidak bisa merasakan masa kanak-kanaknya, waktu yang seharusnya ia gunakan untuk sekolah dan bermain bersama teman-temannya tidak ia miliki.

Karena keadaan yang menimpanya, bocah kecil ini harus menanggung beban yang tidak semestinya tidak ia tanggung sendiri. Seperti yang dilansir dari kehidupan seorang bocah ini harus merawat ayahnya yang bernama Ou Tongming berusia 37 tahun yang menderita lumpuh.

Sang ayah Tongming kini hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Ia menderita lumpuh semenjak bulan Juni 2013 silam karena jatuh dari lantai dua rumah yang sedang ia bangun. Karena kecelakaan yang menimpanya tersebut, Tongming sang ayah mengalami patah tulang rusuk, fraktur vertebra, serta cedera tulang belakang yang mengakibatkan lumpuh dari pinggan ke bagian bawah.

Selama ini Tongming telah menghabiskan banyak uang untuk biaya perawatan dan pengobatannya. Namun meskipun begitu kesehatannya tak kunjung membaik. Oleh sebab itulah.

ia hanya bisa terkulai lemas dan tidak berdaya di temat tidurnya. Setelah kurang lebih selama setahun, kondisinya tidak kunjung membaik, sang istri dan putrinya yang berusia 3 tahun pergi meninggalkan rumah.

Baca Kisah Menyeramkan Lainnya :

Kini hanya tersisa Ou Yanglin yang berada di dekatnya. Tongming kini menggantungkan hidupnya pada putranya tersebut. Mau tidak mau Yanglin harus merawat ayahnya tersebut.

Bocah laki-laki yang kini duduk di kelas 1 SD ini setiap harinya harus bangun jam 6 pagi. Sebelum pergi ke sekolah, ia kemudian menyiapkan sarapan untuk sang ayah.

Setelah makan siang, ia akan kembali pulang ke rumahnya untuk menyuapi sang ayah. Sedangkan sepulang sekolah, ia mengumpulkan sampah dan menjualnya agar mendapatkan uang.

Kisah Seorang Anak Yang Merawat Ayahnya Di Trotoar Jalan

Kisah Seorang Anak Yang Merawat Ayahnya Di Trotoar Jalan

Kisah Seorang Anak Yang Merawat Ayahnya – Suatu hari ada kehidupan yang mengharukan dimana ada seorang anak kecil yang bernama Siti Aisyah rela merawat ayahnya setiap hari.

Wajah Siti Aisyah Pulungan terlihat sedikit bahagia. Bocah usia delapan tahun ini pun banyak menaruh harapan. Beban penderitaan yang dirasakan selama hampir dua tahun itu, dirasakan mulai berkurang. Tidak lagi merawat ayah tercintanya, Muhammad Nawawi Pulungan, yang tak berdaya tidur di atas becak barang,

Selama ini, ayah Aisyah itu hanya tergeletak di atas becak. Badannya yang kurus kering tidak mampu untuk bangkit. Aisyah merawat ayahnya itu meski hanya mengandalkan air minum dan mencari makan dari belas kasihan orang. Aisyah tidak pernah mengeluh.

“Dulu aku pernah duduk di bangku kelas satu sekolah dasar di kawasan Halat. Tapi saya berhenti sekolah karena merawat ayah yang sakit. Kami tidak punya tempat tinggal,” ujar Aisyah.

Selama hampir dua tahun itu, Aisyah setia merawat Nawawi. Saban hari, mereka mengharapkan belas kasihan dari dermawan ketika melewati Masjid Raya kawasan Jl Sisingamangaraja Medan, yang tidak jauh dari lokasi Istana Maimun Medan.

“Jika malam tiba, saya bersama ayah tidur di atas becak. Kami tidur di depan pertokoan dan salon. Pagi hari, saya ambil air dari masjid, begitu juga sore harinya. Air itu buat membersihkan badan ayah, biar tidak merasa kegerahan, dan supaya tubuhnya tetap terlihat bersih,” katanya.

Karena Nawawi sakit, Aisyah lah yang selalu mengayuh becak setiap harinya. Tidak sedikit orang yang melihat pemandangan memilukan tersebut. Ada yang menaruh rasa kasihan saat melihat kisah hidup ayah dan anak itu. Warga yang prihatin selalu memberikan bantuan makanan, minuman dan uang.

Namun, tidak sedikit pula di antara masyarakat yang melihat kejadian tersebut menganggapnya pemandangan biasa saja. Bahkan, Aisyah kerap kali harus memanjat tembok untuk mengambil air dari masjid. Itu dia lakukan supaya pejabat yang salat, tidak melihatnya.Kisah Pengorbanan Dan Perjuangan Seorang Anak

Baca Kisah Menyeramkan Lainnya :

“Aku sengaja membawa ayah untuk menghindari pemandangan pejabat. Ini kulakukan agar kami tidak diusir dari tempat biasa mencari nafkah. Setiap hari, saya dan ayah di trotoar kawasan Masjid Raya itu. Malamnya, kami pergi dan tidur di depan pertokoan maupun rumah orang,” ungkapnya.

Tubuh kurus Aisyah pun tidak menghalangi semangatnya membawa ayahtercintanya. Anak malang ini tidak mengenal wajah ibunya yang bernama Sugiarti. Sejak berusia satu tahun, Aisyah ditinggalkan bersama Nawawi. Sugiarti meninggalkan suami dan anaknya itu karena faktor ekonomi.

Selama menjalani kehidupan berat tersebut, Aisyah tidak pernah menyerah. Demi Nawawi dia mengaku tidak pernah mengeluh tidur di atas becak. Becak itu merupakan harta paling berharga. Jika ban bocor, Aisyah mengharapkan bantuan tukang tempel ban untuk menambalnya.

Kebahagiaan Aisyah mulai terpancar dari raut wajahnya ketika Pelaksana tugas Wali Kota Medan, Dzulmi Eldin akhirnya menerima laporan. Eldin langsung melakukan pengecekan, dan melihat langsung kisah memilukan tersebut. Nawawi yang dalam kondisi lemas diboyong ke rumah sakit.

Aisyah pun juga dibawa. Pihak medis pun memberikan pertolongan. Nawawi ternyata sudah lama mengidap penyakit paru-paru. Usai menjalani pemeriksaan di unit gawat darurat, Nawawi langsung dibawa ke dalam Ruang Flamboyan 18. Aisyah masih setia mendampinginya.

“Dulu anak ini pernah sekolah namun terpaksa berhenti. Anak malang ini masih sangat menginginkan untuk sekolah lagi. Mulai besok, dia dapat sekolah di SD Purwo, yang tidak jauh dari rumah sakit ini. Pulang sekolah, dia bisa mendampingi ayahnya. Jadi, mereka terus bersama,” ujar Eldin.

Dalam kesempatan itu, Eldin yang kembali menyambangi Nawawi dan Aisyah di rumah sakit. Eldin memberikan bantuan pakaian seragam sekolah, buku, tas dan alat tulis untuk perlengkapan sekolah anak malang tersebut. Eldin merasa iba dengan melihat kehidupan anak itu.

Baca Kisah Menyeramkan Lainnya :

“Biaya perawatan Nawawi selama di rumah sakit dan biaya pendidikan buat Aisyah akan ditanggung oleh pemerintah. Aisyah memang harus mendapatkan pendidikan yang layak. Bahkan, kita merencanakan mempersiapkan rusunawa buat tempat tinggal mereka,” ungkapnya. Kisah Pengorbanan Dan Perjuangan Seorang Anak

Kisah Aisyah ternyata mengundang banyak perhatian. Tidak sedikit yang memberikan bantuan, bahkan ada yang merencanakan menggalang dana melalui perkumpulan pengusaha dermawan supaya membantu Aisyah. Ada komite donatur yang dipimpin Cahyo Pramono untuk mendesain bantuan buat Aisyah.

Pengamat sosial di Medan, Badaruddin menyampaikan, kisah pilu Aisyah bersama ayahnya, harus menjadi perhatian semua orang. Bahkan, pemerintah diminta tidak hanya berjanji untuk memberikan tempat tinggal. Sebab, perjalanan hidup bapak dan anak itu masih panjang.

“Selain memberikan pendidikan gratis, perawatan gratis selama di rumah sakit, pemerintah juga harus memikirkan upaya menyambung hidup bapak dan anak tersebut. Misalnya, Nawawi setelah sembuh diberikan pekerjaan untuk menafkahi anaknya, atau diberikan modal untuk berjualan,” jelasnya.

Dia mengkhawatirkan, kisah pilu ini akan terjadi lagi jika pemerintah tidak mempertimbangkan hal tersebut. Sebab, kisah Aisyah merupakan bagian dari segelintir kasus anak yang terpaksa menjalani hidup keras di tengah perkotaan. Lembaga untuk penanganan anak pun diharapkan mempunyai peranan.

Menurut Dewi (40), salah seorang warga di seputaran Jl Mahkamah Medan, Aisyah bersama Nawawi sudah sangat lama hidup terlunta-lunta. Masyarakat di sana sering memberikan bantuan buat bapak dan anak tersebut. Bahkan, keduanya tidak dilarang ketika memarkirkan becak di depan rumah.

“Kalau untuk memberikan bantuan nasi dan makanan sudah sering diberikan. Kita semua kasihan melihatnya. Kami juga bersyukur karena pada akhirnya pemerintah mau membantu Nawawi dan Aisyah. Semoga janji pemerintah direalisasikan, sehingga Aisyah dan ayahnya bisa merasakan tidur di rumah barunya,” harapnya.

Kisah Perjuangan Hidup Seorang Anak Pmbuat Batubata

Kisah Perjuangan Seorang Anak Pembuat Batubata

Kisah Perjuangan Seorang Anak Pembuat Batubata – Di sebuah Desa ada seorang bocah yang bernama Jono, ia hidup dengan Keluarga yang sederhana, dengan usaha batubata kecil-kecilan milik ayaknya.

Setiap harinya Jono selalu membantu ayahnya membuat Batubata agar dapat dijual dengan penghasilan yang kurang cukup untuk membiayai kehidupa mereka.

Sang ayah saat ini sudah meranjak tua dan sedang menghadapi penyakit yang serius. Jono rela melepaskan dunianya hanya untuk membantu orangtua. Setiap hari jono membantu mengankut dan menjemur batubata.

Ya, pekerjaan orangtua jono hanyalah pengrajin batubata kecil. Anak sekecil jono terpaksa mengerjakan pekerjaan orang dewasa, tidak disuruh, tapi ia tak tega melihat ayahnya bekerja sendirian.

Bocah sekecil itu sanggup meninggalkan masa kacilnya yang seharusnya menikmati indahnya masa kekanak-kanakan. Jono selalu terlihat riang ketika membantu ayah.

Tapi, kita tidak tahu apakah jono benar-benar periang, ataukah jono menyembunyikan rasa sedihnya agar ayah dan ibu tidak ikut sedih. Bocah sekecil ini sudah mampu memiliki rasa prihatin terhadap orang tua.

Jono si kecil yang tak tega melihat ayahnya bekerja sendiri ikut membantu menyusun dan memindahkan bata. Mirisnya, pekerjaan ini tidak dilakukan di hari libur, jono ternyata tak bersekolah. orangtua jono tak sanggup membiayai jono agar tetap duduk di bangku sekolah.

Baca Kisah Menyeramkan Lainnya :

Jono terpaksa membantu orang tuanya di saat teman sebayanya mengenyam pendidikan di sekolah. disaat teman sebayanya bercanda bersenang-senang menikmati masa kanak-kanak. Pemerintah semestinya harus lebih tanggap dengan masalah-masalah seperti ini.

Kita menyadari bahwa menuntut ilmu sangat penting dimulai dari dini hari, apa jadinya jika masa kanak-kanak diisi dengan pekerjaan yang tidak seharusnya dikerjakan.

Jono adalah seorang bocah yang cukup tangguh, saya sempat kagum dengannya, dalam usia yang sungguh-sungguh sangat muda, masih bocah malahan, naum telah dapat membantu penderitaan orang tuanya.

Saya merasa malu dengan diri sendiri, yang sampai saat ini masih membutuhkan bantuan dari orang tua. Semoga cerita singkat ini mampu mengubah hidup kita agar bisa berfikir lebih dewasa lagi. Selalu menghargai jerih payah kedua orang tua, tidak melawan dengan nya. Selalu bersikap ramah dan tidak membantah atau membentak.